Selasa, 01 Desember 2015

DOWNLOAD PEMBAHASAN KIMIA
http://downloads.ziddu.com/download/25108968/Pembahasan_Soal_UN_Kimia_SMA_2013.pdf.html
DOWNLOAD SOAL KIMIA
http://downloads.ziddu.com/download/25109003/soal_un_kimia_2013_h2so4_17cl_32z16_1_.pdf.html

Kamis, 17 September 2015

DYNAMIT RASA




“Bagai merindu rembulan di tengah siang” lirik nasyid itulah yang kira-kira menggambarkan isi hatiku. Seorang gadis remaja yang mulai mengenal cinta. Hmmm.. aku Asma, nama panjangnya ya Asma....... hehe...
REMAJA satu situasi yang sulit dipisahkan dengan yang namanya Cinta, betul gak friends? Panteslah kalo Maia Estiantie bilang “aku mau makan ku ingat kamu, aku mau tidur juga ingat kamu... cinta,, oh inikah yang namanya Cinta?” ohokohok... suaru langsung serak nyanyi gitu juga, emm ini berkat suaraku yang teramat merdu laksana petir yang menggelegar.
Asma Fatimah adalah sebuah nama yang ayah berikan untukku. Aku terlahir dari orang kaya dulunya. Aku anak semata wayang, hidupku hanya berdua bersama ayah. Ibu sudah lama meninggalkan aku dan ayah. Masih ku rekam dengan jelas, saat kepergian ibu. Waktu itu aku duduk di kelas ix, tepat pada tanggal 20 juni 2009 aku melaksanakan Ujian Nasional hari ketiga. Perasaanku entah kenapa menjadi tak menentu. Bel sekolah berbunyi menandakan kertas ujianku harus segera di kumpulkan. Entahlah , tak terlalu aku memikirkan benar salahnya jawaban. Yang ku inginkan hanya pulang dan pulang.
Tampak dari kejauhan, rumahku dikerumuni  banyak orang. Ada apa ini, aku terus bertanya dalam hati. Namun, seiring langkahku yang semakin dekat menuju rumah, ada bendera kuning yang di pasang. Siapakah yang meninggal? Jantungku berdetak kian cepat, langkahku semakin cepat. Dan tiba-tiba ku temui seseorang yang terbujur kaku, bekain putih dan banyak orang yang membaca kalam Illahi. Siapa dia? Sepintas ku lihat orang-orang menatapku dengan nada iba. “kamu yang sabar yah, Asama. Do’akan saja ibumu” kata orang yeng bertakziah. Apa ,,, ibuku???? Tak mungkin Ya ALLOH... Ku dekati jenazah itu, dan ayah tiba-tiba membenarkan apa yang dikata orang tadi. Sontak aku tak percaya , aku menangis sejadi-jadinya. Dan duniapun terasa begitu gelap.
Hari silih berganti, minggupun saling menunggu, namun aku tak pernah percaya bahwa ibuku kini telah tiada. Aku masih meratapi kepergiannya. Tak ada makanan yang masuk pada rongga mulutku, begitu juga cairan bening yang menyejukan. Aku benar-benar merasa kesepian. Kini tak ada lagi tangan halus yang membelai rambutku , tak ada pula suara lembut yang kudengar setiap harinya. Tak sadar tubuhku kian hari kurus kering keronta.
“Ayah tahu ini berat untukmu, Ma. Tapi ini adalah takdir yang Alloh berikan kepada kita. Ini ujian, dan kita harus sabar menerimanya” suara ayah membuyarkan lamunanku. Tak pernah ku dengar ayah berkata selembut itu padaku. Selama ini ayah srlalu tegas padaku. Itu karena aku yang sulit diatur dan jarang turut pada perintah Ayah. Perlahan namun pasti air mataku mengalir semakin deras.
“kamu ingat tidak, Ma? Saat Baginda Rosul wafat, semua ummatnya bersedih tak percaya , ditinggal Manusia luar biasa. Pemisah antara haq dengan yang bathil? Meski tak banyak orang yang mengikhlaskan, namun lihatlah Sayyidatina Fatimah. Beliau merasa terpukul ditinggal ayah yang amat dicintainya. Berhari-hari beliau menangis namun beliau juga bangkit kembali berkat dorongan dari suaminya. Tidakkah ingin Asma seperti beliau?” sambung ayahku.                                               Ayah  mendekat lalu mengusap kepalaku, tanda kasih sayang yang tak pernah kurasakan selama ini. Aku  menangis di pangkuan Ayah. Sungguh ini kali pertama dan kini aku sadar  aku tak sendiri , aku bersama ayah. Aku harus tetap menjalani hidupku. Ayah benar, meski aku tak akan pernah setegar Sayyidatina Fatimah,tapi aku “ASMA FATIMAH” akan berusaha meneladani akhlaq-Nya.
                                                                        ***********

Kring kring…. Bunyi alarm menunjukan pukul 05.00 “ahh.. di luar masih gelap,mending  tidur lagi aja”. Mataku kembali terpejam.
“Ma,,, Asma,,, bangunlah nak,,, shubuh” Ayah  memanggilku berulang,namun sedikitpun tak ku hiraukan.
(aku takut, tolong… tolong…raksasa hitam itu mengejarku dan membawa pisau.       Itu berarti dia akan memakanku. Ah tidak,,, aku berlari namun tak kutemui  jalan yang pasti, semuanya terasa buntu, dan raksasa iu semakin mendekat dan….)
“Tolong… tolong… jangan bunuh Asma,  Asma masih mau makan tempe masakan Ayah”
“Isighfar Asma,bangunlah nak”.
Alhamdulillah ,,, itu hanya mimpi bagiku, tak mungkin jadi nyata.
“Asma mimpi di kejar raksasa, yah!Asma takut, Asma mau di bunuh”
“hmmm… Asma, Asma, salah kamu juga sih… ba’da shubuh kok tidur? Mimpinya juga mimpi syetan . Selain itu juga bisa mewarisi kefakiran, baik fakir ilmu ataupun fakir harta.” Jelas ayah.
“oh begitu ya, Yah. Ah Asma mau berubah Yah, mau do’ain ibu. Tapi kok susahnya minta ampun yah???”
“susah apa susah? Apa kamu udah nyoba, hayo?”
“hehe,, belum sih Yah… tapi nanti ayah bantu ya?”
“siippp..”
Aku semakin dekat dengan ayah. semenjak kepergian ibu,  Ayah berubah drastis. Dan kini, hanya Ayahlah yang aku punya.
**************

Oh iya kawan…hari ini adalah pelepasan siswa  IX SMPN 1 Palembang. Hmmm terasa begitu khidmat apalagi saat sesi sungkeman. Kebetulan aku  perwakilan dari kelasku, lalu ku lihat sosok lelaki tampan bernama Shidiq, seorang ketua OSIS yang juga sebagai mempelai pria. Sebenarnya dalam hati aku berontak, aku tidak suka melihat Shidiq bersama mempelai wanitanya. Tapi apa daya? Otakku tak cukup pintar mengalahkan kecerdasannya. Kalian tahu? Tapi ini rahasia loh, sebenarnya aku yang  memaksa Feby teman dekatku, agar aku yang menjadi perwakilan dari kelas kita.
Haha,, aku ingat sekali saat aku memaksa Feby. Aku pura-pura sakit dan gak mau makan,  sampai gak mau ngapa-ngapain lah. Dan begitu mudahnya juga sahabatku itu percaya.
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Hmm,, berarti hari ini adalah hari terakhirku untuk bertatap muka dengan teman seperjuangan ku.                                                                                                                      Acara akan segera berakhir, kamipun  bersalaman satu dengan yang lainnya. Ketika itu juga, air mata kami menetes.  Namun tak lama kemudian, serasa ada suara yang memanggilku. Akupun menoleh kebelakang, ternyata…
“Asma, Asma tunggu!”
“Oh…iya ada apa, Dik?”
Ya Rabb..Maha Suci Engkau. Yang memanggilku adalah dia, lelaki yang kudambakan yaitu Shidiq.
“Boleh kita bicara?”ucap Shidiq.
“Tentu,”(jantungku berdetak semakin cepat, teman).
“Mm..perempuan yang baik, untuk lelaki yang baik. Dan perempuan buruk untuk lelaki yang buruk”.
“Lalu?”(aku heran, mengapa Shidiq berkata seperti  itu).
“Kamu perempuan baik , Asma. Dan kamu layak mendapatkan lelaki yang baik juga. Karna itu aku ingin menjadi leleki baik itu, Ma.”
“Maksud kamu apa Shidiq?”aku kebingungan.
“Aku melihat, langkah kaki dan ucapanmu  berbeda dengan kebanyakan wanita. Tapi aku tak berani untuk mengungkapkannya. Aku menyimpan perasaan ini sejak lama, dan mungkin kamu tidak menyadarinya. Ketahuilah, Ma. Tak ada istilah pacaran untuk mereka yang taat pada Kholiqnya. Jika Allah telah mentakdirkan engkau untuk hidup bersama ku, yakinlah bahwa Allah akan mempertemukan kita kembali.”Shidiq menghela nafas.
“Tapi kenapa engkau baru mengatakannya, Shidiq?”
“Karena aku takut, aku tak mampu menahan nafsuku. Dan aku tak ingin nafsu menodai perasaan suci ini”.
“Aku mengerti Shidiq…”
“Baiklah Ma, ini..(sambil memberikan bingkisan kado berwarna merah jambu padaku)semoga bermanfaat.  Aku ingin kau menjaga dan mengamalkannya”.
“Hmm..jazaakallahu khoiron..”
“Afwan Asma, assalaamu’alaikum..”.
“Wa’alaikum salaam warahmatullah..”
Ini adalah pertemuan terakhirku dengan Shidiq, akupun pulang. Setelah sampai di rumah aku penasaran dengan isi bingkisan itu, lalu aku bergegas untuk membuka nya. Dan ternyata bingkisan itu berisi buku tentang “Ketegaran Siti Fatimah”.
***#Bersumbang,,,eh bersambung,,,!!!#***
Nah itulah ceritaku sahabat, nanati dilanjut yah insyaalloh. jangan lupa komentarnya. salam ukhuwah.

Minggu, 30 Agustus 2015





LEGENDA SANGKURIANG

Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.

 Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.

Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya. 

Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.

Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat. Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.

Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.

Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.

Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.


Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

Minggu, 09 Agustus 2015